Dua Peran, Satu Pengabdian: Menjadi Seorang Ibu Sekaligus Pendidik

Milgas Karoba, di mata masyarakat desanya bukanlah perempuan biasa. Sebagai seorang Sarjana Pendidikan dari Universitas Cendrawasih, ia sebenarnya memiliki kesempatan untuk mencari kehidupan yang lebih nyaman di kota. Namun, panggilan jiwanya justru membawanya kembali ke kampung halamannya di Desa Yabendili, Distrik Eragayam. Ia melihat kenyataan pahit, banyak anak di desanya yang masih terbata-bata mengeja huruf dan kesulitan menghitung angka dasar.

Di saat banyak perempuan seusianya memilih untuk tinggal di rumah mengurus pekerjaan rumah tangga, Milgas memilih jalan yang berbeda. Ia membawa serta kedua anaknya ke ruang kelas. Baginya, sekolah adalah rumah kedua, dan pendidikan adalah napas bagi masa depan anak-anak di kampungnya.

Setiap pagi, di ruang kelas SD Inpres Yabendili yang sederhana, Milgas berdiri di depan papan tulis. Ia membimbing murid-muridnya dengan penuh kesabaran. Sementara itu, kedua anaknya duduk tenang di sudut kelas, sekadar memperhatikan sang ibu mengajar atau sambil digendong olehnya. Milgas menggabungkan peran sebagai seorang ibu sekaligus pendidik yang berdedikasi.

Realitas ekonomi yang dihadapi Milgas sangat menantang. Honor yang ia terima dari dana BOS hanya sebesar Rp1.000.000,- per termin, itu artinya uang honor baru ia terima setiap enam bulan sekali. Jika dihitung per bulan, nilainya sangatlah kecil. Namun, angka-angka tersebut tidak pernah menjadi alasan baginya untuk meningalkan pekerjaannya di SD Inpres Yabendili.

"Pendidikan adalah hak setiap anak, dan saya tidak tega membiarkan mereka kehilangan masa depan hanya karena keterbatasan yang saya hadapi," ujarnya kepada Fasilitator Yayasan Nusantara Sejati yang mendampingi sekolahnya saat Pra-Pendampingan. Bagi Milgas, kepuasan batin melihat seorang anak yang tadinya tidak mengenal huruf menjadi lancar membaca, jauh lebih berharga daripada nominal uang yang ia terima.

Milgas Karoba adalah potret nyata sosok pahlawan tanpa tanda jasa. Ia mengajarkan kepada kita semua bahwa pengabdian tidak selalu ditentukan oleh besarnya imbalan yang diterima, tetapi dari motivasi diri dan dampak yang mampu dihasilkan bagi orang lain. Ia membuktikan bahwa seorang perempuan mampu mengubah wajah generasi penerus di desanya.