Merantau Demi Memenuhi Panggilan Jiwa

Penulis: Kosmas Tedemaking – Fasilitator DFAT Mamteng, Distrik Ilugwa


Di sebuah lembah hijau di Papua Pegunungan, berdiri sebuah sekolah dasar sederhana bernama SD Inpres Kalarin. Atap sengnya bergemuruh setiap kali hujan turun. Di sekolah inilah Arini mengabdikan dirinya sebagai guru. Berbekal keberanian, ia merantau dari Pulau Jawa ke Papua. Meski diselimuti rasa takut dan ketidakpastian, ia tetap mengikuti panggilan hatinya untuk menghadirkan cahaya pengetahuan bagi anak-anak di pedalaman.

Setiap hari untuk mencapai sekolah, Ibu Arini harus menempuh perjalanan yang penuh tantangan. Ia berjalan berjam-jam melewati hutan, menyeberangi sungai kecil, dan menyusuri jalan setapak yang curam. Saat rasa lelah menghampiri, ia selalu mengingat alasan kedatangannya: anak-anak yang menunggunya di bangku sekolah. Semangat mereka untuk belajar menjadi sumber kekuatan yang membuatnya terus melangkah.

Di sisi lain, para murid juga belajar di tengah berbagai keterbatasan. Buku pelajaran, listrik, dan sinyal telepon tidak selalu tersedia. Sebagian dari mereka bahkan datang ke sekolah tanpa alas kaki. Namun, keterbatasan tersebut tidak pernah mengurangi semangat mereka untuk menimba ilmu.

Dalam mengajar, Ibu Arini memanfaatkan apa pun yang tersedia di sekitarnya. Batu kerikil menjadi alat belajar matematika, daun dan bunga digunakan untuk mengenalkan sains, sementara cerita rakyat Papua menjadi media pembelajaran bahasa Indonesia. Ketika malam tiba dan gelap menyelimuti kampung, ia masih meluangkan waktu mengajar beberapa murid dengan bantuan cahaya senter. Sesekali, ia juga menggunakan lagu-lagu sederhana agar pelajaran lebih mudah diingat. Perlahan, suasana belajar pun berubah. Anak-anak tidak lagi hanya duduk diam mendengarkan, tetapi mulai berani bertanya, bernyanyi bersama, dan mengeksplorasi hal-hal baru di luar pelajaran.

Suatu sore, setelah kelas usai, seorang murid bernama Delvin menghampirinya. Dengan polos ia berkata, “Ibu, saya ingin menjadi guru seperti Ibu, supaya anak-anak di kampung tidak perlu jauh-jauh untuk belajar.” Kalimat sederhana itu membuat mata Ibu Arini berkaca-kaca. Saat itulah ia menyadari bahwa benih-benih mimpi mulai tumbuh di hati anak-anak yang ia dampingi.

Harapan yang dirawat dengan penuh ketekunan itu semakin menguat ketika SD Inpres Kalarin menerima program literasi dari Yayasan Nusantara Sejati (YNS), UNICEF, dan Pemerintah Australia. Melalui program ini, para guru memperoleh pendampingan dan pelatihan strategi pembelajaran yang efektif. Mereka juga diajak memahami bahwa mengajarkan membaca bukan sekadar mengenalkan huruf dan kata, tetapi juga membangun cara berpikir positif, rasa percaya diri, dan semangat untuk terus belajar.

Seiring berjalannya waktu, dampak positif program tersebut mulai dirasakan oleh seluruh warga sekolah. Para orang tua semakin terdorong untuk mendampingi anak-anak belajar di rumah, sementara pihak sekolah semakin yakin bahwa perubahan dapat dimulai dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara bersama.

Bagi Ibu Arini, hadiah terbesar dari pengabdiannya bukanlah penghargaan atau pengakuan, melainkan melihat anak-anak berani bermimpi dan percaya pada masa depan mereka. Sementara itu, bagi SD Inpres Kalarin, kehadiran YNS menjadi jembatan yang menghubungkan berbagai keterbatasan dengan masa depan pendidikan yang lebih baik. Sinergi antara sekolah, masyarakat, YNS, UNICEF, dan Pemerintah Australia menjadi fondasi penting yang perlu terus dijaga agar manfaatnya dapat terus dirasakan dan dikembangkan bagi generasi-generasi berikutnya.