Di tengah udara dingin dan kabut yang menyelimuti Desa Kobakma 1, berdirilah SD Inpres Kobakma. Sekolah ini menjadi tempat bertemunya banyak mimpi para siswa yang datang setiap harinya. Mereka datang dengan segala kelebihan dan keterbatasannya. Ada yang sudah mengenal huruf dan membaca, tetapi ada juga yang belum. Namun, satu hal yang mulai dirasakan semakin bertumbuh adalah kesadaran bahwa belajar dan bersekolah itu penting, sebagai jendela menuju masa depan yang berarti.
Di sekolah tersebut, Yuvensius Bagur (Yuven), mengabdikan dirinya. Awalnya, ia adalah seorang penjaga sekolah, tetapi sejak tahun 2024, ia mulai aktif membantu mengajar di kelas-kelas awal yang gurunya berhalangan hadir. Beliau merasa kasihan kepada para siswa karena sering tidak ada guru yang mengajar. “Saya sering masuk di kelas 1, 2, dan 3 karena gurunya tidak ada. Paling sering di kelas 1. Saya kasihan lihat mereka datang ke sekolah hanya main-main, tidak belajar”, ujarnya.
Ketika fasilitator YNS kembali melakukan pendampingan pada tahun 2025, beliau mengungkapkan kegelisahannya bahwa masih banyak siswa yang belum bisa mengenal huruf atau membaca, padahal sudah menduduki kelas tinggi. Dalam praktiknya sehari-hari, para siswa ini sering terabaikan karena guru harus tetap melanjutkan pelajaran bagi siswa yang sudah bisa.
Dari kegelisahan tersebut, lahirlah sebuah keputusan penting. Plt. Kepala Sekolah, Dody C. Santoso, S.Pd., Gr. memberikan kepercayaan kepada Yuven untuk secara khusus membantu para siswa yang belum bisa membaca, menulis, dan berhitung di kantor sekolah. Setiap harinya Yuven mengajar para siswa tersebut secara terpisah dan penuh kesabaran. Mulai dari mengenal huruf, menulis, dan membaca secara berulang. “Saya bilang ke mereka, hari ini kita belajar. Pulang nanti harus ulang lagi. Besok saya tanya lagi,” ujar beliau lagi. Pada awalnya memang tidak mudah karena para siswa masih sering lupa atau terbalik-balik mengenali huruf. Namun, setelah tiga minggu berjalan, sedikit demi sedikit perubahan mulai terlihat. Bahkan tanpa sepengetahuan kepala sekolah, Yuven juga mengajar mereka secara privat di rumahnya. Ia percaya bahwa para siswa tersebut mampu, asal diajarkan dengan sabar.
Yuven menggunakan kartu huruf sebagai alat bantu belajar. Melalui kartu-kartu sederhana itulah para siswa mulai menangkap pelajaran dengan mudah dan tidak lagi takut dengan huruf. Mereka mulai berani membaca dan menikmati proses belajarnya. Yuven pun bahagia karena para siswa yang ia ajarkan mulai menunjukkan kemajuan.
Kisah Yuven adalah cermin dari semangat gotong-royong dalam dunia pendidikan. Ia bukan guru tetap atau pendidik dengan gelar tinggi. Namun, ia adalah manusia biasa yang memilih untuk tidak menutup mata terhadap kesulitan anak-anak di sekitarnya. Intervensi YNS di SD Inpres Kobakma bukan hanya menghadirkan metode, alat bantu, dan pendampingan literasi, tetapi juga menumbuhkan keberanian bagi orang-orang seperti Yuven untuk mengambil peran yang lebih besar dalam dunia pendidikan.
Saat ini, perubahan sudah mulai terasa. Para siswa yang sebelumnya hanya datang untuk bermain, kini mulai berani mengeja, menulis namanya sendiri, dan membaca perlahan-lahan. Orang tua pun mulai melihat bahwa anak-anak mereka benar-benar belajar. Sekolah telah terbukti menjadi tempat tumbuhnya harapan akan masa depan yang berarti. Yuven mengajarkan bahwa pendidikan bukan hanya tugas guru, kepala sekolah, atau lembaga tertentu, melainkan merupakan tanggung jawab semua orang yang peduli akan kesejahteraan dan kualitas manusia.