Kecil Bentuknya, Bermakna Rasanya

Penulis:  Frisiane Jubelina Wanda – Fasilitator Yalimo, Abenaho

 

Di Kampung Dombomi, Distrik Abenaho, Provinsi Papua, anak-anak berjalan perlahan menyusuri jalan tanah menuju SD Inpres Dombomi. Walaupun tanpa alas kaki, mereka tetap bersemangat untuk datang. Tidak hanya untuk belajar, tetapi juga untuk memberi.

Setiap pagi, beberapa anak turun ke sungai, lalu mengambil air dengan jerigen kecil, untuk diberikan kepada Ibu Guru mereka di sekolah. Pemberian air adalah tanda hormat, kasih sayang, dan cara mereka berkata, “Kami senang Ibu ada bersama kami.

Setelah sekolah usai, mereka tidak langsung pulang ke rumah, tetapi singgah terlebih dahulu di kebun keluarga untuk mengumpulkan ubi, pisang, nanas, dan sayuran. Esok harinya hasil kebun itu mereka berikan kepada Ibu Guru. Meskipun tidak banyak, pemberian itu penuh cinta dan ketulusan.

Sepintas, itu hanyalah hasil kebun biasa. Namun, bagi anak-anak Dombomi, itulah persembahan terbaik yang mereka dapat berikan. Mereka tahu bahwa para guru datang dari jauh. Mereka tahu bahwa tidak ada toko besar atau pasar di dekat kampung. Mereka sadar bahwa  guru-guru juga adalah manusia yang membutuhkan makan dan perhatian. Oleh karenanya, mereka berbagi dengan cara yang mereka bisa lakukan.

Bagi mereka, guru tidak hanya memberikan ilmu, tetapi juga sebagai sahabat yang mengantar mereka menuju masa depan. Orang-orang yang membekali dan memberi akses ke dunia yang belum pernah mereka lihat. Juga bagi para guru, anak-anak ini bukan hanya sebagai murid. Mereka adalah amanah atau titipan yang harus dicintai sebagaimana makhluk yang bernilai. Pendidikan juga bukan hanya soal ruang kelas, buku, atau angka kelulusan, melainkan hubungan antarmanusia yang bermakna. Hubungan yang memungkinkan mereka dapat memiliki kebajikan, serta saling menguatkan dan mendoakan satu sama lain.

Dari Dombomi, kita belajar bahwa kebaikan tidak selalu lahir dari kelimpahan, tetapi dari hati yang mampu berempati dan bersyukur dengan apa yang kita miliki. Pemberian tersebut sesungguhnya, adalah cinta dalam bentuk yang sederhana, tetapi terasa sangat bermakna.