Saat pertama kali mengikuti kegiatan belajar di SD YPK Moria Pirip, Veronika dan Aminus belum bisa langsung masuk ke kelas 1. Mereka perlu memulai dari pra sekolah karena belum mengenal huruf.
Kondisi sekolah saat itu cukup menantang. Jumlah guru terbatas, sehingga Kepala Sekolah harus mengajar di beberapa kelas sekaligus. Dalam situasi tertentu, anak-anak hanya diminta menggambar sambil menunggu giliran belajar.
Veronika dan Aminus dikenal sebagai anak yang aktif. Namun, mereka belum mendapatkan pendampingan belajar yang cukup di rumah. Ketika ditanya mengapa belum mengenal huruf, jawabannya sederhana: mereka memang belum terbiasa belajar membaca. Bahkan setelah mencoba belajar, materi yang dipelajari sering kali mudah terlupakan keesokan harinya.
Proses pendampingan kemudian dilakukan di kelas pra sekolah dengan metode literasi sederhana. Huruf diperkenalkan secara bertahap, disesuaikan dengan kemampuan mereka. Tantangan muncul karena dalam satu kelas terdapat perbedaan tingkat kemampuan antar siswa. Untuk menjaga suasana belajar tetap kondusif, kegiatan belajar diselingi dengan lagu dan aktivitas yang mereka sukai.
Khusus untuk Veronika dan Aminus, diberikan latihan sederhana untuk diulang di rumah, kemudian ditanyakan kembali keesokan harinya. Proses ini dilakukan secara konsisten melalui pengulangan.
Perubahan tidak terjadi secara instan, tetapi perlahan mulai terlihat.
Beberapa minggu kemudian, pada tahun ajaran baru, Veronika dan Aminus sudah berada di kelas 1. Mereka tidak hanya mulai mengenal huruf, tetapi juga menunjukkan perkembangan dalam membaca. Veronika bahkan sudah mampu membaca suku kata sederhana.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa dengan pendampingan yang konsisten dan pendekatan yang sesuai, anak-anak dapat berkembang secara signifikan, meskipun dimulai dari tahap yang sangat dasar.
Kisah Veronika dan Aminus menjadi pengingat bahwa setiap anak memiliki potensi untuk belajar dan bertumbuh—selama mereka mendapatkan kesempatan dan dukungan yang tepat.



