Sebuah Sudut Baca, Sebuah Awal untuk Mimpi Besar

Penulis: Reimon Ikari – Fasilitator Yalimo, Abenaho

Siang itu ruang kelas tampak lebih sunyi dari biasanya. Dinding yang mulai dilapisi warna masih terlihat belum selesai. Kuas, cat, dan beberapa kursi tersusun seadanya. Seorang fasilitator berdiri memeriksa hasil kerja hari sebelumnya, sekadar memastikan garis-garis pohon dan rumput sudah tampak rapi.

Tiba-tiba pintu diketuk pelan. *Adik W, alumni kelas 6 SDN Kewi, muncul dengan senyum kecil yang khas. Ia tidak banyak berbicara. Ia hanya mengangguk, lalu mendekat ke dinding. Matanya mengamati setiap goresan. Dalam diam, ia mengambil kuas, duduk bersimpuh, dan melanjutkan gambar Spongebob yang belum selesai.

*Adik W sudah lama dikenal suka menggambar. Ia pernah bercerita bahwa ia ingin menjadi seorang tentara suatu hari nanti. Tetapi sebelum cita-cita itu tiba, ia tahu bahwa ada hal-hal kecil yang harus ia rawat: kesabaran, ketekunan, dan rasa memiliki terhadap sekolah yang pernah membesarkannya.

Ia mengecat perlahan. Tidak tergesa. Warna kuning ia ratakan dengan teliti. Sesekali ia menoleh ke kaca jendela, untuk melihat apakah cahaya cukup. Tidak ada yang menyuruh. Tidak ada yang memuji. Ia hanya ingin ruang itu menjadi lebih hidup, menjadi tempat adik-adiknya merasa nyaman membaca.

Hari itu, sudut baca bukan sekadar proyek sekolah. Ia menjadi karya bersama. *Adik W dan para siswa lainnya menempelkan sedikit-sedikit diri mereka di situ: melalui gambar, melalui waktu, melalui kehadiran.

Ketika lukisan itu akhirnya tampak utuh, ada rasa hangat yang tumbuh pelan: Bahwa ruang ini bukan hadiah dari luar, tapi hasil tangan mereka sendiri. Dan ketika sesuatu dibuat bersama, orang belajar menjaganya bersama. *Adik W mungkin akan melanjutkan perjalanan panjang hidupnya. Namun jejak kecilnya tetap tinggal di dinding sekolah, sebagai warna, sebagai cerita, sebagai pengingat sederhana bahwa anak-anak Papua Pegunungan bisa berkarya. Bisa belajar. Bisa membangun dari langkah kecil. Dan dari sudut baca inilah, harapan itu tumbuh pelan, satu halaman demi satu halaman.

Bagikan Artikel :
Facebook
LinkedIn
WhatsApp
Telegram
Artikel Lain di Uncategorized