Cerita tentang mengajar kelas 1, keterbatasan, dan harapan di SD Inpres Eragayam
Di balik kabut tebal yang setiap pagi menyelimuti lembah Eragayam, langkah pelan seorang guru terdengar menembus dingin. Di tangannya tergenggam sebatang rotan panjang, bukan untuk menghukum, tetapi untuk menunjuk huruf-huruf di papan tulis yang mulai pudar. Dialah Bapak Yanes Gombo, atau yang akrab disapa Hamba, guru kelas 1 di SD Inpres Eragayam.
Hamba adalah putra asli Kampung Wirekleburd, Eragayam. Ia bukan seorang aparatur sipil negara, bukan pula penerima gaji tetap. Ia seorang guru honorer yang digaji dari dana BOS sekolah. Namun di mata anak-anak, ia adalah penjaga cahaya pengetahuan di lembah mereka. Setiap tahun, ia selalu dipercaya mengajar kelas 1, anak-anak yang datang ke sekolah tanpa pernah mengenal huruf dan angka, bahkan banyak yang belum fasih berbahasa Indonesia. Mereka datang ke sekolah dengan kosa kata yang masih terbatas pada bahasa ibu. Di sinilah ketulusan seorang Hamba terlihat. Ia mengajar dengan bahasa hati, seringkali menerjemahkan kata-kata dalam bahasa daerah agar murid-muridnya memahami.
Di kelas sederhana berdinding papan, suara anak-anak sering terdengar riuh menyanyikan lagu “Baca Buku”, “Ayamku Punya Anak”, “Domba Dela dari Desa” atau “Lele Lola Kelas Lima”. Lagu-lagu itu bukan sekadar hiburan; itulah cara Hamba mengajarkan mereka huruf dan bunyi, melalui lagu kebun huruf yang ia pelajari dari Yayasan Nusantara Sejati. Setiap huruf menjadi nada, setiap suku kata menjadi irama yang menghidupkan tawa di wajah anak-anak. Kini lagu-lagu itu menjadi bagian dari keseharian kelasnya. Bila seseorang lewat di depan ruang kelas 1, ia akan mendengar anak-anak menyanyikan abjad dengan riang, diselingi tawa dan tepukan tangan.
Namun di balik keceriaan itu, ada perjuangan sunyi. Pendengaran Hamba tidak sempurna. Ia sering harus membaca gerak bibir anak-anak untuk memahami ucapan mereka. Kadang ia harus menunduk lebih dekat agar bisa menangkap suara kecil muridnya yang malu-malu. Tetapi keterbatasan itu justru menjadi sumber kekuatannya. “Kalau saya berhenti, siapa lagi yang akan ajar anak-anak di sini?” katanya pelan.
Setiap pagi, Bapak Yanes berjalan kaki membawa rotan kecil dari rumah, bukan untuk menakut-nakuti murid, melainkan sebagai penunjuk arah saat menulis di papan tulis. Anak-anak menjulukinya “Guru Rotan.” Julukan itu diucapkan dengan senyum dan hormat. Di tangan Hamba, rotan bukan alat disiplin, melainkan tongkat semangat.
Ketika ditanya apa yang membuatnya terus bertahan, Hamba menjawab dengan senyum: “Saya lahir di sini, saya besar di sini, dan saya ingin anak-anak di sini bisa membaca dunia lebih luas dari saya.”
Di tempat yang jauh dari hiruk-pikuk kota, di mana sinyal sering hilang dan buku masih terbatas, Hamba menanamkan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar huruf: harapan. Harapan bahwa suatu hari, anak-anak Eragayam akan menulis kisah mereka sendiri, kisah yang dimulai dari ruang kecil, suara nyanyian, dan seorang guru bernama Hamba.
“Saya mungkin tidak bisa dengar semua suara, tapi saya bisa lihat semangat mereka. Itu cukup bagi saya untuk terus mengajar.”
Penulis: Jhoni Korain – Fasilitator


