Ferri Karoba, Guru Papua yang Menghidupkan Sekolah di Tengah Keterbatasan

Penulis: Jhoni Korain – Fasilitator di Eragayam, Mamberamo Tengah

Di sebuah bukit sunyi di Kampung Mogonik, Eragayam, Mamberamo Tengah, tinggal seorang guru sederhana yang setiap harinya berjalan bersama embun pagi. Namanya Bapak Ferri Karoba, putra asli Mogonik, seorang guru GTT kontrak daerah yang mengemban amanah besar: memastikan anak-anak kampungnya tidak tertinggal dari dunia.

Setiap hari, sebelum matahari naik, Pak Ferri melangkah turun dari rumahnya di bukit. Perjalanan itu bukan sekadar rutinitas: itu adalah bentuk cinta. Ia melewati kebun kopi miliknya, dengan aroma arabika yang menguatkan langkahnya. Genangan air, tanah becek, licin, dan jalur 1 kilometer lebih tidak pernah menghalanginya. Ia berjalan bukan untuk dirinya, tetapi untuk masa depan lima anaknya, untuk murid-muridnya, dan untuk tanah kelahirannya.

Sebelum kepala sekolah yang baru hadir, Pak Ferri adalah satu-satunya guru yang menjaga SD YPPGI Mogonik tetap hidup. Enam kelas ia pegang di satu ruangan. Kadang-kadang hanya dua anak datang. Sering kali hanya satu. Namun tidak pernah sekalipun ia membiarkan sekolah itu kosong. Di saat sebagian orang mungkin menyerah, Pak Ferri justru semakin teguh: “Kalau saya tidak datang, siapa lagi yang ajar mereka?”

Kesadaran bahwa pendidikan adalah kunci perubahan membuatnya berulang kali berdiri di mimbar gereja, menyampaikan imbauan dengan suara penuh harap. Ia mengingatkan para orang tua agar menyekolahkan anak-anak mereka. Meski respons sering tak sebanding dengan usahanya, ia tidak berhenti. Di ladang, di kebun kopi, di jalan setapak—setiap kali bertemu orang tua, ia tetap mengajak dengan sabar: “Ajak anak ke sekolah, supaya mereka punya masa depan.” Bagi Pak Ferri, satu anak yang hadir adalah satu masa depan yang diselamatkan.

Selepas mengajar, ketika guru lain mungkin sudah pulang beristirahat, Pak Ferri justru kembali ke sekolah membawa mesin babat. Ia membersihkan halaman, merapikan batas sekolah hingga menanam pohon sin sebagai penanda agar kebun masyarakat tidak semakin masuk ke area sekolah. Ia memperbaiki ruang kelas, menambal yang rusak, mengecat seadanya, menggunakan uang pribadinya. Semua itu ia lakukan dari hasil menjual kopi yang ditanamnya sendiri.

Di tengah segala keterbatasan, status sebagai guru honorer daerah, gaji yang pas-pasan, beban keluarga dengan lima anak, Pak Ferri tetap berdiri sebagai salah satu pilar pendidikan di Mogonik Eragayam. Keteguhannya membuat sekolah yang hampir mati tetap hidup. Dedikasinya membuat anak-anak tetap memiliki tempat untuk bermimpi.Kisah Pak Ferri adalah kisah tentang keteguhan seorang guru desa yang percaya bahwa masa depan anak-anak Mogonik tidak boleh hilang hanya karena mereka berada jauh di pegunungan. Ia menunjukkan bahwa perubahan besar sering kali dimulai dari langkah-langkah kecil yang dilakukan dengan hati besar.

Di antara kabut pagi Mogonik, ada satu cahaya yang tidak pernah padam: langkah seorang guru bernama Ferri Karoba.

Bagikan Artikel :
Facebook
LinkedIn
WhatsApp
Telegram